Floating arus


Nama : Nahdiani
NIM  : 1810716120005
Prody : Ilmu Kelautan

Floating arus
Sebagai anggota dari komunitas riset kelautan dunia, Indonesia memerlukan suatu teknik pemantauan (monitoring) laut yang bekerja secara terus-menerus. Hal ini sangat relevan dengan bentuk dan letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua benua dan dua samudera. Terlebih lagi dengan adanya fenomen a-fenomena seperti El Nino, naiknya permukaan laut dan meningkatnya suhu bumi yang sejauh ini belum dapat dipahami sepenuhnya.
Gelombang–gelombang laut yang paling panjang adalah yang berhubungan dengan pasang surut, dan dikarakterisasi oleh naik dan turunnya permukaan laut yang berirama setelah periode beberapa jam. Pasang naik biasanya disebut sebagai aliran/flow (atau flood), sedangkan sedangkan pasang turun dinamakan (ebb). Istilah surut dan aliran pada pasang surut juga biasa digunakan untuk mengartikan arus – arus pasang itu sendiri (dan, tentu saja, pasang ‘flood’ lebih sering digunakan daripada ‘aliran/flow’). Dari awal mulanya telah diketahui bahwa ada hubungan antara pasang surut dengan matahari dan bulan. Pasang surut dalam keadaan tertinggi pada saat bulan purnama atau baru, dan waktu – waktu pasang surut yang tinggi pada lokasi tertentu dapat diperkirakan (tapi tidak tepat sekali) dihubungkan dengan posisi bulan di langit. Karena pergerakan relatif bumi, matahari, bulan cukup rumit, maka mengakibatkan pengaruh mereka akan peristiwa pasang surut menghasilkan pola – pola kompleks yang sama. Meskipun begitu, jarak gaya – gaya yang ditimbulkan oleh pasang surut dapat dirumuskan dengan tepat, walaupun respon lautan atas gaya – gaya ini dimodifikasi oleh efek – efek permanen topografi dan efek sementara dari pola – pola cuaca (Dr. Agus Supangat, Pengantar Oseanografi. ITB).
Fenomena pasang surut adalah naik turunnya muka laut secara berulang dengan periode tertentu akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi bumi menarik air laut ke arah bulan dan matahari menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari(Irawan, 2018).
Pengertian arus adalah gerakan air yang dilakukan oleh perpindahan berkala (Nybakken, 1992) dan pengukuran arus telah dilakukan sejak dahulu dengan beberapa metode secara langsung yaitu data kecepatan dan arah arus langsung ditampilkan oleh alat-alat pengukur arus yang digunakan, maupun secara tidak langsung yaitu Arus lagrangian di sekitar rumpon di tengah teluk Manado Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap 4(1): 26-32, Juni 2019 27 dengan memanfaatkan peranan suhu, salinitas, tekanan dan gradien potensial listrik didalam lautan (Stowe, 1987 dalam Masengi, 2019).
Arus Laut Permukaan merupakan gerakan massa air yang disebabkan oleh angin yang berhembus di permukaan laut pada kedalaman kurang dari 200 m yang berpindah dari satu tempat yang bertekanan udara tinggi ke tempat lain yang bertekanan udara rendah yang sangat luas dan terjadi pada seluruh lautan di dunia (Gross,M.G, 1990 dalam Daruwedho, 2016).
Untuk mengetahui Keadaan permukaan, dasar dan dalam laut, kita dapat menggunakan alat yang telah dirancang khusus oleh beberapa ilmuwan. Alat tersebut memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing. Seperti current meter, CTD, hand refraktometer, DO meter, pH meter, alinometer, Shieve shaker dan ayakang bertingkat. Dan ada pula yang terbuat dengan bahan-bahan yang sederhana seperti halnya floating dragh/float tracking, papan skala, dan sechi disk, aat ini biasanya digunakan hanya pada permukaan laut saja contohnya untuk mengukur kecepapatan arus, pasang surut dan kecerahan suatu perairan. Berbeda alat maka berbeda pula bentuk, fungdi dan kesensitifitasannya masing-masing.
Arus menyusur pantai terjadi jika gelombang datang membentuk sudut terhadap garis pantai. Semakin mendekati garis pantai kelandaian gelombang datang akan semakin curam seiring dengan berkurangnya kedalaman dan akhirnya gelombang akan pecah. Gelombang pecah dengan sudut tertentu terhadap garis pantai yang kemudian mengakibatkan terjadinya arus menyusur pantai. Arus menyusur pantai mencapai maksimum pada posisi breaker line dan akan berkurang hingga mencapai posisi run up maksimum. Kedalaman perairan yang kecil pada skala laboratorium dan variasi kecepatan arus yang cukup signifikan pada daerah surfzone mengakibatkan pengukuran arus menyusur pantai menjadi sulit. Pengukuran arus menyusur pantai dengan metode floating object (bola-bola pelampung) dikembangkan untuk mengatasi permasalahan keterbatasan alat ukur arus menyusur pantai pada skala laboratorium (Umar, 2018).
Salah satu metode in situ terbaik untuk mengetahui kondisi dinamik suatu perairan adalah dengan mengukur arus laut. Pengukuran arus dengan metode Lagrangian (Yeung & Pope, 1988) telah lama diterapkan untuk mengukur pola, arah, dan asal arus (Davis, 1991; Mullarney & Henderson, 2013). Pendekatan dengan konsep lagrangian adalah dengan mengikuti atau melacak gerak air spesifik secara ruang dan waktu (Schacht & Lemckert, 2007). Salah satu instrumen lagrangian yakni GPS (Global Positioning System) drifter atau float tracking merupakan instrumen yang sudah lama digunakan untuk melacak arus (Spencer et al., 2014 dalam Purba, 2017).
Untuk mengukur arus laut menggunakan Float Tracking dengan prinsip kerja  berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui  pelampung.  Alat ini harus dipasang pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh gerakan air laut sehingga pelampung dapat bergerak secara vertikal dengan bebas. Setelah itu, diamati pergerakan pelampung selama 5 menit.  Kemudian catat koordinat daerah kemana pelampung bergerak dengan GPS (Global Position System).

Gambar Float Tracking.

        Pengukuran arus dengan Float Tracking menggunakan metode Lagrangian. Metode Lagrangian adalah suatu cara mengukur arus laut dengan cara melepas benda apung atau drifter ke  laut, kemudian diukur jarak dan vektor perpindahannya (Johnson dan Pattiaratchi 2004). Metode ini ditemukan oleh Joseph Lagrange (1736-1811), seorang matematikawan Prancis.
Metode ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan dan mengambil data jarak, lokasi, dan waktu pengukuran. float tracking dibuat dengan menggunakan bola atau benda yang dapat mengapung lain dan diberi bendera di bagian atas tiang, agar arus di permukaan diketahui pergerakannya. Pada bagian bawah float tracking juga dibuat seperti kincir dimana arus di kolom air dapat membawa float tracking untuk bergerak. Metode ini digunakan untuk mencari vektor atau arah arus bergerak yang berada di bawah permukaan.
Dalam proses pengambilan data jarak, arah, dan waktu, setidaknya dibutuhkan GPS dan alat penunjuk waktu atau stop watch untuk menandai stasiun setiap interval waktu. Melalui waktu dan jarak, maka akan diketahui kecepatan arus pada suatu perairan. Arah arus sendiri dapat diketahui melalu plotting stasiun dari GPS.



DAFTAR PUSTAKA
Daruwedho haryo, 2016. Analisis pola arus laut permukaan perairan Indonesia dengan menggunakan satelit Altimetri Jason-2 tahun 2010-2014. Jurnal Geodesi Undip. 5(2).
Irawan sudra, 2018. Kondisi Hidro-Oseanografi (Pasang Surut, Arus Laut, Dan Gelombang) Perairan Nongsa Batam. Jurnal kelautan. 11(1) : 56 – 68.
Masengi A.W. Kawilarang, 2019. Arus lagrangian di sekitar rumpon di tengah teluk Manado. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. 4(1): 26-32.
Umar hasdinar, 2012. Metode floating object untuk pengukuran arus menyusur pantai. Jurnal Riset dan Teknologi Kelautan (JRTK). 10(2).
Purba P. Noir, 2017. Pengembangan instrumen Lagrangian Gps drifter combined (gerned) untuk observasi laut. Jurnal Kelautan Nasional. 12(3) : 109 – 116.

Komentar